Manajemen Diri Dengan Sesuatu YANG Baru


Masih ingatkah Anda ketika baru pertama kali bisa naik sepeda? Masih ingatkan Anda ketika pertama kali ke suatu tempat yang sekarang menjadi tempat favorit Anda? Masih ingatkah Anda ketika pertama kali merasakan secara nyata bagaimana naik kelas, lulus sekolah, ataupun mendapatkan gaji pertama?
Manajemen Diri Sendiri
Pengalaman pertama adalah hal yang istimewa. Pengalaman pertama biasanya begitu membekas pada ingatan. Jika kita ingat pengalaman-pengalaman pertama yang kita alami, tentu kita akan merasakan hal-hal yang indah. Ternyata pengalaman pertama, memang memberikan input positif bagi kehidupan kita.


Nah, apa yang Anda dapatkan dari semua ”pengalaman pertama” tersebut?
→ KEPUASAN
Ketika pertama kali kita lulus ujian, berhasil mengendarai sepeda, menyetir mobil, naik ke kelas yang lebih tinggi, mendapat gaji pertama, kita merasakan kepuasan.
Kepuasan karena berhasil melakukan sesuatu yang baru untuk pertama kalinya ini ternyata memiliki pengaruh yang luar biasa. Karena kita puas, kita ingin mencoba lagi. Jika pertama kali kita belum terlalu mahir, kali-kali berikutnya kita berusaha untuk menjadi lebih baik dari yang pertama kali. Akhirnya, kita bisa menjadi mahir.
Jadi kepuasan, mendorong kita untuk maju. Kepuasan juga mendorong kita untuk mencoba lagi dengan cara yang lebih baik. Kepuasan memberi semangat bagi kita untuk mengasah keterampilan, dan belajar.

Funny Manajemen







Manajemen Bisnis A'la Nabi Muhammad SAW


Sebagai Rasul terakhir Allah SWT, Nabi Muhammad SAW tercatat dalam sejarah adalah pembawa kemaslahatan dan kebaikan yang tiada bandingan untuk seluruh umat manusia. Bagaimana tidak karena Rasulullah SAW telah membuka zaman baru dalam pembangunan peradaban dunia. Beliaulah adalah tokoh yang paling sukses dalam bidang agama (sebagai Rasul) sekaligus dalam bidang duniawi (sebagai pemimpin negara dan peletak dasar peradaban Islam yang gemilang selama 1000 tahun berikutnya).
Kesuksesan Rasulullah SAW itu sudah banyak dibahas dan diulas oleh para ahli sejarah Islam maupun Barat. Namun ada salah satu sisi Muhammad SAW ternyata jarang dibahas dan kurang mendapat perhatian oleh para ahli sejarah maupun agama yaitu sisinya sebagai seorang
pebisnis ulung. Padahal manajemen bisnis yang dijalankan Rasulullah SAW hingga kini maupun di masa mendatang akan selalu relevan diterapkan dalam bisnis modern. Setelah kakeknya yang merawat Muhammad SAW sejak bayi wafat, seorang pamannya yang bernama Abu Thalib lalu
memeliharanya.

Abu Thalib yang sangat menyayangi Muhammad SAW sebagaimana anaknya sendiri adalah seorang pedagang. Sang paman kemudian mengajari Rasulullah SAW cara-cara berdagang (berbisnis) dan bahkan mengajaknya pergi bersama untuk berdagang meninggalkan negerinya (Makkah) ke negeri Syam (yang kini dikenal sebagai Suriah) pada saat Rasulullah SAW baru berusia 12 tahun. Tidak heran jika beliau telah pandai berdagang sejak berusia belasan tahun. Kesuksesan Rasulullah SAW dalam berbisnis tidak terlepas dari kejujuran yang mendarah daging dalam sosoknya.
>
Kejujuran itulah telah diakui oleh penduduk Makkah sehingga beliau digelari Al Shiddiq. Selain itu, Muhammad SAW juga dikenal sangat teguh memegang kepercayaan (amanah) dan tidak pernah sekali-kali mengkhianati kepercayaan itu. Tidak heran jika beliau juga mendapat julukan Al Amin (Terpercaya). Menurut sejarah, telah tercatat bahwa Muhammad SAW melakukan lawatan bisnis ke luar negeri sebanyak 6 kali diantaranya ke Syam (Suriah), Bahrain, Yordania dan Yaman. Dalam semua lawatan bisnis, Muhammad selalu mendapatkan kesuksesan besar dan tidak pernah mendapatkan kerugian.

Lima dari semua lawatan bisnis itu dilakukan oleh beliau atas nama seorang wanita pebisnis terkemuka Makkah yang bernama Khadijah binti Khuwailid. Khadijah yang kelak menjadi istri Muhammad SAW, telah lama mendengar reputasi Muhammad sebagai pebisnis ulung yang jujur dan teguh memegang amanah. Lantaran itulah, Khadijah lalu merekrut Muhammad sebagai manajer bisnisnya. Kurang lebih selama 20 tahun sebelum diangkat menjadi Nabi pada usia 40 tahun, Muhammad mengembangkan bisnis Khadijah sehingga sangat maju pesat. Boleh
dikatakan bisnis yang dilakukan Muhammad dan Khadijah (yang menikahinya pada saat beliau berusia 25 tahun) hingga pada saat pengangkatan kenabian Muhammad adalah bisnis konglomerat.

Pola manajemen bisnis apa yang dijalankan Muhammad SAW sehingga bisnis junjungan kita itu mendapatkan kesuksesan spektakuler pada zamannya ? Ternyata jauh sebelum para ahli bisnis modern seperti Frederick W. Taylor dan Henry Fayol pada abad ke-19 mengangkat prinsip manajemen sebagai sebuah disiplin ilmu, ternyata Rasulullah SAW telah mengimplementasikan nilai-nilai manajemen modern dalam kehidupan dan praktek bisnis yang mendahului masanya. Berdasarkan prinsip-prinsip manajemen modern, Rasulullah SAW telah dengan sangat baik mengelola proses, transaksi, dan hubungan bisnis dengan seluruh elemen bisnis serta pihak yang terlihat di dalamnya.
Seperti dikatakan oleh Prof. Aflazul Rahman dalam bukunya “Muhammad: A Trader” bahwa Rasulullah SAW adalah pebisnis yang jujur dan adil dalam membuat perjanjian bisnis. Ia tidak pernah membuat para pelanggannya mengeluh. Dia sering menjaga janjinya dan menyerahkan barang-barang yang dipesan dengan tepat waktu. Muhammad SAW pun senantiasa
menunjukkan rasa tanggung jawab yang besar dan integritas yang tinggi dalam berbisnis. Dengan kata lain, beliau melaksanakan prinsip manajemen bisnis modern yaitu kepuasan pelanggan (customer satisfaction), pelayanan yang unggul (service exellence), kemampuan,
efisiensi, transparansi (kejujuran), persaingan yang sehat dan kompetitif.

Dalam menjalankan bisnis, Muhammad SAW selalu melaksanakan prinsip kejujuran (transparasi). Ketika sedang berbisnis, beliau selalu jujur dalam menjelaskan keunggulan dan kelemahan produk yang dijualnya. Ternyata prinsip transparasi beliau itu menjadi pemasaran yang efektif untuk menarik para pelanggan. Beliau juga mencintai para pelanggannya seperti mencintai dirinya sehingga selalu melayani mereka dengan sepenuh hatinya (melakukan service exellence) dan selalu membuat mereka puas atas layanan beliau (melakukan prinsip customer satisfaction).
Dalam melakukan bisnisnya, Muhammad SAW tidak pernah mengambil margin keuntungan sangat tinggi seperti yang biasa dilakukan para pebisnis lainnya pada masanya. Beliau hanya mengambil margin keuntungan secukupnya saja dalam menjual produknya.Ternyata kiat mengambil margin
keuntungan yang dilakukan beliau sangat efektif, semua barang yang dijualnya selalu laku dibeli Orang-orang lebih suka membeli barang-barang jualan Muhammad daripada pedagang lain karena bisa mendapatkan harga lebih murah dan berkualitas. Dalam hal ini, beliau melakukan prinsip persaingan sehat dan kompetitif yang mendorong bisnis semakin efisien dan efektif.

Boleh dikatakan Rasulullah SAW adalah pelopor bisnis yang berdasarkan prinsip kejujuran, transaksi bisnis yang adil dan sehat. Beliau juga tidak segan mensosialisasikan prinsip-prinsip bisnisnya dalam bentuk edukasi dan pernyataan tegas kepada para pebisnis lainnya. Ketika
menjadi kepala negara, Rasulullah SAW mentransformasikan prinsip-prinsip bisnisnya menjadi pokok-pokok hukum. Berdasarkan hal itu, beliau melakukan penegakan hukum pada para pebisnis yang nakal. Beliau pula yang memperkenalkan asas “Facta Sur Servanda” yang kita kenal sebagai asas utama dalam hukum perdata dan perjanjian. Di tangan para pihaklah terdapat kekuasaan tertinggi untuk melakukan transaksi bisnis yang dibangun atas dasar saling setuju.

Berdasarkan apa yang dibahas di atas ini, jelas junjungan yang kita cintai itu adalah pebisnis yang melaksanakan manajemen bisnis yang mendahului zamannya. Bagaimana tidak karena prinsip-prinsip manajemen Rasulullah SAW baru dikenal luas dan diimplementasikan para pebisnis
modern sejak abad ke-20, padahal Rasulullah SAW hidup pada abad ke-7. Pakar manejemen bisnis terkemuka Indonesia, Rhenald Kasali pun mengakuinya dengan mengatakan bahwa semua bisnis yang diinginkan niscaya juga akan sukses jika mau menduplikasi karakter Muhammad SAW
dalam berbisnis. Dengan begitu, kita dapat mengatakan kepada pelaku bisnis, “Ingin bisnis sukses, jalankan manajemen bisnis Muhammad SAW!” Selamat mencoba dan semoga bermanfaat.

TAnk's to : Sumber

Pengertian Manajemen


Sering kita mendengar kata manajemen, namun banyak di antara kita tidak tahu pengertian manajemen / definisi manajemen tersebut, kali ini coba kita lihat apa sih pengertian manajemen itu sebenarnya ?
Kata manajemen di ambil dari kata bahasa inggris yaitu “manage” yang berarti mengurus, mengelola, mengendalikan, mengusahakanmemimpin.

Berikut pengertian manajemen menurut beberapa ahli :

  1. Manajemen adalah seni dan ilmu perencanaan pengorganisasian,penyusunan,pengarahan dan pengawasan daripada sumberdaya manusia untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. (By : Drs. Oey Liang Lee )
  2. Manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian dan penggunakan sumberdaya organisasi lainnya agar mencapai tujuan organisasi tang telah ditetapkan. (By : James A.F. Stoner)
  3. Manajemen merupakan suatu proses khas yang terdiri dari tindakan-tindakan perencanaan, pengorganisasian, penggerakan dan pengendalian yang dilakukan untuk menentukan serta mencapai sasaran yang telah ditentukan melalui pemanfaatan sumberdaya manusia dan sumberdaya lainnya. (By : R. Terry )
  4. Manajemen adalah seni pencapaian tujuan yang dilakukan melalui usaha orang lain.(By : Lawrence A. Appley)
  5. Manajemen adalah usaha untuk mencapai suatu tujuan tertentu melalui kegiatan orang lain. (By : Horold Koontz dan Cyril O’donnel )
Sebenarnya ada banyak versi mengenai definisi manajemen, namun demikian pengertian manajemen itu sendiri secara umum yang bisa kita jadikan pegangan adalah :
“Manajemen adalah suatu proses yang terdiri dari rangkaian kegiatan, seperti perencanaan, pengorganisasian, penggerakan dan pengendalian/pengawasan, yang dilakukan untuk menetukan dan mencapai tujuan yang telah ditetapkan melalui pemanfaatan sumberdaya manusia dan sumberdaya lainnya”
Diolah dari berbagai sumber.

Orang Yang Celaka


Imam Bukhari rahimahullah membuat sebuah bab di dalam Shahihnya dalam Kitab ar-Riqaq (pelembut hati) dengan judul, ‘Man nuuqisyal hisaab ‘udzdziba’ (Orang yang didebat ketika dihisab amalnya maka pasti akan diadzab). Kemudian beliau membawakan riwayat dari Aisyah radhiyallahu’anha dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,“Barangsiapa yang didebat ketika dihisab maka pasti akan diadzab.” Aisyah berkata, “Bukankah Allah ta’ala berfirman (yang artinya), ‘Maka kelak dia akan dihisab dengan mudah.’ (QS. al-Insyiqaq: 8).” Nabi menjawab, “Yang dimaksud oleh ayat itu adalah ditampakkan catatan amal kepadanya.” (HR. Bukhari [6536] dan Muslim [2876], ini lafazh Bukhari)
Dari Aisyah radhiyallahu’anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada seorang pun yang dihisab melainkan dia pasti binasa.” Aku -Aisyah- berkata, “Bukankah Allah berfirman tentang adanya hisab yang ringan?”. Maka Nabi menjawab, “Yang dimaksud adalah sekedar ditampakkannya catatan amal. Namun, barangsiapa yang didebat ketika hisab maka dia pasti binasa.” (HR. Bukhari [6537] dan Muslim [2876], ini lafazh Muslim)

al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata seraya menukilkan penjelasan para ulama mengenai maksud hadits di atas, “Cara untuk mengkompromikan -antara ayat dan hadits yang seolah-olah bertentangan tersebut- adalah bahwa yang dimaksud dengan hisab dalam ayat itu adalah ditampakkannya catatan amal. Yaitu ditampakkannya amalan dan diperlihatkan kepada dirinya sehingga pelakunya pun mengetahui dan mengakui dosa-dosa yang telah diperbuatnya. Kemudian Allah pun memaafkan dirinya.” (Fath al-Bari, 11/455)

Lantas, al-Hafizh membawakan riwayat yang menguatkan penafsiran ini. Yaitu sebuah hadits yang diriwayatkan oleh al-Bazzar dan at-Thabari dari jalan Abbad bin Abdullah bin az-Zubair, dia berkata: Aku mendengar Aisyah radhiyallahu’anha berkata, “Aku pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang makna hisab yang ringan.” Maka beliau menjawab,“Maksudnya adalah seseorang yang ditunjukkan kepadanya dosa-dosanya kemudian dia kesalahan-kesalahannya pun dimaafkan.” (lihat Fath al-Bari [11/455]).

Terdapat riwayat lain yang mendukungnya, di antaranya beliau menyebutkan hadits Jabir yang dibawakan oleh Ibnu Abi Hatim dan al-Hakim, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Barangsiapa yang kebaikan-kebaikannya bisa melebihi berat timbangan dosa-dosanya, maka itulah orang yang akan masuk surga tanpa hisab. Dan barangsiapa yang kebaikan dan dosanya seimbang, maka itulah orang yang akan dihisab dengan hisab yang ringan, kemudian dia masuk surga. Barangsiapa yang dosanya lebih berat daripada kebaikannya, maka itulah orang yang mencelakakan dirinya sendiri, dan sesungguhnya syafa’at itu akan diberikan kepada orang sepertinya.” (lihat Fath al-Bari [11/455]).

al-Hafizh juga menyebutkan terdapat hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Mardawaih dari jalan Hisyam bin Urwah dari bapaknya dari Aisyah radhiyallahu’anha secara marfu’, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah ada seseorang yang dihisab di hari kiamat melainkan dia pasti akan masuk surga.” Secara lahiriyah makna hadits ini bertentangan dengan hadits tadi, maka cara mengkompromikannya menurut beliau adalah; bahwa kedua hadits ini berbicara dalam konteks orang yang beriman. Tidak ada pertentangan antara disiksa dan dimasukkan ke dalam surga. Karena seorang yang bertauhid meskipun seandainya dia diputuskan harus merasakan adzab, maka dia juga pasti akan dikeluarkan dari neraka dengan syafa’at atau keluasan rahmat Allah (lihat Fath al-Bari[11/455]).
Keterangan di atas merupakan dasar perincian para ulama mengenai keadaan orang yang diampuni dosanya karena tauhid yang dia miliki, sebagaimana yang dijelaskan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Aziz al-Qor’awy. Beliau menjelaskan bahwa meninggal di atas tauhid yang bersih merupakan syarat pengampunan dosa (tidak disiksa), namun hal ini ada rinciannya, yaitu sbb:
  1. Barangsiapa yang meninggal di atas syirik akbar -tidak bertaubat darinya- maka dia pasti masuk neraka dan kekal di dalamnya
  2. Barangsiapa yang meninggal dalam keadaan bersih dari syirik akbar namun dia juga masih membawa sedikit syirik ashghar -yang dia belum bertaubat darinya- sementara amal kebaikannya masih lebih berat timbangannya daripada dosanya maka dia akan masuk surga
  3. Barangsiapa yang meninggal dalam keadaan bersih dari syirik akbar namun dia juga masih membawa dosa syirik ashghar, sementara dosanya lebih berat timbangannya daripada amal kebaikannya, maka orang semacam ini berhak dimasukkan ke dalam neraka namun tidak akan kekal di sana (lihat al-Jadid fi Syarh Kitab at-Tauhid, hal. 44)
Engkau tidak bisa mengelak!
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Adapun orang yang diberikan catatan amalnya dengan tangan kanannya maka kelak dia akan dihisab dengan hisab yang ringan dan akan kembali kepada keluarganya dengan penuh kegembiraan.” (QS. al-Insyiqaq: 7-8)

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, “Yang dimaksud hisab yang ringan itu adalah Allah ‘azza wa jalla akan berduaan bersama dengan seorang hamba-Nya yang beriman dan tidak ada orang lain yang ikut menyaksikan dosa-dosanya. Dia mengatakan, ‘Didunia aku telah melakukan demikian dan demikian’, sampai-sampai ketika dia telah merasa bahwa dia pasti akan binasa maka Allah ta’ala berfirman, ‘Sesungguhnya Aku telah menutupi dosa-dosa itu untukmu selama di dunia, dan pada hari ini Aku pun mengampuninya untukmu.’…” (Syarh Aqidah Ahlis Sunnah, hal. 298)

Apa yang disampaikan oleh Syaikh Ibnu Utsaimin di atas berdasarkan pada riwayat Ibnu Umarradhiyallahuanhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Pada hari kiamat seorang mukmin akan didekatkan di sisi Rabbnya ‘azza wa jalla sampai diletakkan tutup atas dirinya kemudian Allah pun meminta pengakuannya atas dosa yang telah dilakukannya. Allah berkata, ‘Apakah kamu mengetahuinya?’. Maka dia menjawab, ‘Benar wahai Rabbku, aku telah mengetahuinya.’ Maka Allah berfirman, ‘Sesungguhnya Aku telah menutupi dosamu ketika di dunia dan pada hari ini Aku berikan ampunan atasnya kepadamu. Maka diberikan kepadanya lembaran catatan amal kebaikannya. Adapun orang-orang kafir dan munafik, maka mereka akan dipanggil di hadapan orang banyak dengan seruan: ‘Mereka itulah orang-orang berdusta atas nama Allah.’.”(HR. Bukhari  [2441] dan Muslim [2768], ini lafazh Muslim, lihat Syarh Muslim [9/35], lihat juga keterangan Ibnu Hajar dalam Fath al-Bari [11/455])

Kemudian, Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, “Seandainya kita mau memikirkan dosa-dosa yang kita perbuat dalam keadaan tidak dilihat oleh orang, niscaya akan kita dapati hal itu sebagai sesuatu yang besar (tidak bisa diremehkan) dan banyak jumlahnya. Akan tetapi berkat penutupan yang diberikan Allah ‘azza wa jalla, kemurahan dan karunia-Nya maka di hari kiamat Allah kembali menutupinya untuk kita. Maka dengan cara itulah Allah meminta persaksian seorang hamba atas dosa-dosanya. Ketika itu dia pasti akan mengaku dan tidak bisa mengelak…” (Syarh Aqidah Ahlis Sunnah, hal. 298)

Orang yang beruntung
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Beruntunglah seseorang yang bersikap objektif menilai dirinya di hadapan Rabbnya. Dia akan mengakui kebodohan dirinya karena ilmu yang tidak dimengerti olehnya dan cacat yang ada pada amal-amalnya, aib yang ada dalam dirinya, sikap meremehkan kewajiban yang harus ditunaikan kepada-Nya, dan kezaliman yang diperbuatnya dalam bermu’amalah. Apabila Allah menghukum dirinya akibat dosa-dosa itu maka dia memandangnya sebagai bentuk keadilan dari-Nya. Apabila Allah tidak menghukumnya atas dosanya maka dia memandangnya sebagai keutamaan dan karunia dari-Nya. Apabila dia melakukan kebaikan, maka dia memandang hal itu sebagai kenikmatan dan pemberian Allah kepada dirinya. Kemudian apabila ternyata Allah mau menerima amalnya itu, itu artinya sebuah kenikmatan dan  pemberian yang kedua kalinya. Kalau seandainya Allah menolak amalannya, maka dia akan menyadari bahwasanya amalan seperti itu memang tidak pantas untuk dipersembahkan kepada-Nya. Kalau dia melakukan suatu keburukan/dosa, maka dia memandang hal itu akibat Allah membiarkan dirinya  dan tidak memperhatikannya atau karena Allah menahan pemeliharaan atas dirinya, dan dia sadar bahwa hal itu merupakan suatu keadilan dari Allah terhadap dirinya. Maka dalam keadaan itu dia bisa melihat betapa butuhnya dia kepada Rabbnya, betapa besar kezaliman yang dia lakukan kepada dirinya sendiri. Dan apabila ternyata Allah mengampuni dosanya maka sesungguhnya hal itu murni karena kebaikan dan kemurahan Allah kepada dirinya. Yang menjadi inti dan rahasia permasalahan ini adalah hamba tersebut tidak pernah memandang Rabbnya kecuali sebagai sosok yang senantiasa melimpahkan kebaikan, dan dia tidak menilai dirinya melainkan sebagai sosok orang yang bertingkah buruk, melampaui batas, atau justru menyepelekan. Dengan begitulah dia bisa meyakini bahwa semua perkara kebaikan yang menggembirakannya sebagai bentuk anugerah Rabbnya kepada dirinya dan kebaikan Allah kepadanya. Adapun semua perkara yang membuatnya sedih itu terjadi akibat dosanya sendiri dan keadilan yang Allah terapkan kepadanya.” (al-Fawa’id, hal. 36)

Wahai, saudaraku… termasuk golongan manakah kita? Orang yang menyadari hakekat dirinya, ataukah orang yang celaka? Wallahu a’lam. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.

Disusun di wisma al-Ghuroba’, Yogyakarta

Pertengahan bulan Dzulqa’dah 1430 H

Yang sangat membutuhkan Rabbnya


Penulis : Abu Mushlih Ari Wahyudi
blog       :http://abumushlih.com